1. Hal-hal apa saja yang perlu mendapatkan perhatian dalam penilaian keberhasilan
koperasi? dan perlukah dibuat kriteria keberhasilan yang berbeda untuk jenis
koperasi yang berbeda?
·
Peningkatan
anggota perorangan.
Pada dasarnya lebih penting jumlah anggota
perorangan daripada jumlah koperasi, karena sebagai kumpulan orang kekuatan
ekonomi bersumber dari anggota perorangan. Ada dua faktor keanggotaan yang
perlu diperhatikan, yaitu kemampuan ekonomi dan tingkat kecerdasan anggota.
Kemampuan ekonomi anggota penting karena dapat digerakkan untuk menyusun
investasi, sedangkan kecerdasan anggota sangat menentukan mutu manajemen yang
sifatnya partisipasi dalam rapat anggota sebagai kekuasaan tertinggi dengan
satu anggota satu suara.
·
Peningkatan
modal
Jumlah modal dari dalam dapat digunakan sebagai
salah satu indikator utama dari kemandirian koperasi. Semakin besar modal dari
dalam berarti kemandirian koperasi tersebut semakin tinggi. Indikator
kemandirian yang lain adalah keberanian manajemen untuk mengambil keputusan
sendiri.
·
Peningkatan
volume usaha
Volume usaha berkaitan dengan skala ekonomi,
semakin besar volume usaha suatu koperasi berarti semakin besar potensinya
sebagai perusahaan, sehingga dapat memberikan pelayanan dan jasa yang lebih
baik kepada para anggota. Sejalan dengan identitas koperasi yang menyatakan
bahwa anggota dan pelanggan adalah orang yang sama, maka volume usaha terutama
harus berasal dari jasa anggota. Loyalitas dan partisipasi aktif anggota sangat
menentukan besarnya volume usaha koperasi khususnya yang berasal dari anggota.
·
Peningkatan
pelayanan kepada anggota dan masyarakat
Berbeda dengan unsur yang lain, pelayanan ini sukar
dihitung secara kuantitatif. Anggota dapat merasakan efeknya dengan
membandingkan sebelum dan sesudah ada koperasi. Bentuk pelayanan dapat
bermacam-macam, misalnya: pendidikan, kesehatan, beasiswa, sumbangan, pelayanan
usaha yang cepat dan efisien, dan sebagainya.
Menurut
kelompok kami kriteria keberhasilan koperasi tidak berbeda pada setiap jenis
koperasi karena aspek-aspek penilaian kriteria keberhasilan koperasi dimilki
oleh seluruh jenis koperasi. Kriteria dalam menilai
keberhasilan koperasi diatas merupakan penilaian secara umum yang dapat
digunakan pada beberapa jenis koperasi yang berbeda.
2.
Apakah
semakin besarnya SHU dapat menunjukan semakin berhasilnya koperasi sehingga
besar kecilnya SHU tersebut dapat dipakai sebagai ukuran keberhasilan koperasi
Menurut
kelompok kami, semakin besarnya SHU dapat menunjukan semakin berhasilnya
koperasi. Tetapi SHU bukan menjadi tolak ukur keberhasilan koperasi karena
berhasil atau tidaknya koperasi sesuai dengan tujuan koperasi yaitu
mensejahterakan anggotanya. Namun SHU
merupakan salah satu faktor penting, hal
ini dapat terjadi karena sebagian SHU digunakan sebagai dana cadangan untuk
membuat usaha baru sehingga dapat meningkatkan modal sendiri tanpa meminjam
dari pihak luar. Modal sendiri dapat meningkatkan efisiensi dan kemandirian
koperasi dalam mengembangkan usahanya. Besarnya SHU dan distribusi SHU kepada anggota, semakin adil
pendistribusian SHU kepada anggota berarti koperasi tersebut semakin berhasil. Tetapi
jika besar kecilnya SHU dikatakan tolak ukur keberhasilan suatu koperasi,
kelompok kami kurang setuju.
3.
Diantara
13 kriteria koperasi mandiri, manakah kriteria yang sulit
dipenuhi koperasi
Menurut kelompok kami,
dari 13 kriteria keberhasilan koperasi yang sulit terpenuhi adalah:
· keanggotaan
koperasi. Anggota koperasi adalah orang-orang yang berkumpul, bersatu secara
sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi,
sosial dan budaya bersama, melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan
mereka kendalikan secara demokratis. Anggota koperasi sebagai pemilik
berkewajiban yang memberikan kontribusi kepada organisasinya. Jumlah anggota berpengaruh
terhadap aktivitas dalam kegiatan koperasi tersebut. Bila jumlah anggota
koperasi banyak namun sifatnya pasif tentu saja tetap tidak berpengaruh
terhadap SHU koperasi sehingga yang menentukan SHU bukanlah jumlah anggota dari
segi kuantitas melainkan lebih kepada aktivitas anggota koperasi dalam
memajukan koperasi.
· Tidak
ada penyelewengan dan manipulasi oleh pengelola. Adanya orang yang menjadi
pengelola hanya ingin mendapatkan maksud tertentu. Pengelola seringkali
memanipulasi data yang dimiliki oleh koperasi, apalagi mengenai pembukuan koperasi
, hal ini merupakan bagian yang paling sensitif yang dapat menimbulkan
terjadinya tindak korupsi.
· Tidak
mempunyai tunggakan. Dalam mengembangkan usahanya, koperasi terkadang
membutuhkan dana atau modal dari pihak ketiga untuk menunjang pelaksanaan
kegiatan koperasi.
4. Apabila suatu koperasi belum dapat memenuhi seluruh kriteria
koperasi mandiri, apakah koperasi tersebut dikatakan belum berhasil? adakah
kriteria yang dianggap kurang relevan untuk penilaian keberhasilan
koperasi dan untuk kondisi dewasa ini serta perlu di perbaharui? Beri alasan
Menurut kelompok kami, sebetulnya koperasi dikatakan
berhasil atau tidak jika memenuhi kriteria 3 sehat koperasi yaitu, sehat
organisasi, sehat usaha dan sehat mental. Jika suatu koperasi bisa memenuhi
kriteria 3 sehat koperasi walaupun belum dapat memenuhi sepenuhnya kriteria
koperasi mandiri maka koperasi tersebut bisa dikatakan berhasil, karena 13
kriteria itu merupakan kriteria koperasi dikatakan mandiri bukan kriteria
koperasi dikatakan berhasil atau tidak. Dari 13 kriteria koperasi mandiri
semuanya relevan dan mempengaruhi keberhasilan koperasi karena sudah mencakup
anggota koperasi, AD/ART dilaksanakan, rapat anggota atau pengurus atau badan
pemeriksa dapat berfungsi secara optimal. Apabila ada salah satu criteria yang
belum terpenuhi maka bukan berarti koperasi tidak berhasil.
5.
Secara
umum dapat dikatakan bahwa koperasi non KUD lebih berhasil dibandingkan dengan
KUD. Bagaimana pendapat kelompok anda
Setuju dengan dikatakan bahwa
koperasi non KUD lebih berhasil dibanding dengan KUD. Sumber daya manusia
(keanggotaan) merupakan hal penting pada koperasi. Sejauh mana pengaruh
kualitas sumber daya manusia mengelola koperasi terhadap KUD. Pada KUD tidak
semua pengurus dan anggota koperasi mengetahui tentang kondisi koperasi
melainkan hanya ketua saja yang dianggap harus mengetahui semuanya. Pengurus
dan anggota koperasi juga beranggapan bahwa kemajuan koperasi sudah merupakan
tanggung jawab pemerintah semata. Serta pengurus KUD tidak berani dalam
mengambil resiko. Umumnya KUD berada di desa dengan tingkat Sumber Daya Manusia
yang rendah, ini berdampak pada sulitnya masyarakat pedesaan untuk mengakses
pasar yang disebabkan infrastruktur di desa belum memadai. Sementara anggota
koperasi non KUD yang lebih berhasil dibanding dengan KUD karena koperasi non
KUD lebih cepat dan lincah dalam menangkap peluang-peluang terutama berkaitan
dengan jasa-jasa perbankan yang dibutuhkan dan banyak terjadi yang membuktikan
bahwa adanya kekuatan institusi non KUD dalam memperjuangkan kepentingan para
anggotanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar