Selasa, 28 Oktober 2014

tugas manajemen koperasi_KRITERIA KEBERHASILAN KOPERASI



1.        Hal-hal apa saja yang perlu mendapatkan perhatian dalam penilaian keberhasilan koperasi? dan perlukah dibuat kriteria keberhasilan yang berbeda untuk jenis koperasi yang berbeda?


·           Peningkatan anggota perorangan.
Pada dasarnya lebih penting jumlah anggota perorangan daripada jumlah koperasi, karena sebagai kumpulan orang kekuatan ekonomi bersumber dari anggota perorangan. Ada dua faktor keanggotaan yang perlu diperhatikan, yaitu kemampuan ekonomi dan tingkat kecerdasan anggota. Kemampuan ekonomi anggota penting karena dapat digerakkan untuk menyusun investasi, sedangkan kecerdasan anggota sangat menentukan mutu manajemen yang sifatnya partisipasi dalam rapat anggota sebagai kekuasaan tertinggi dengan satu anggota satu suara.
·         Peningkatan modal
Jumlah modal dari dalam dapat digunakan sebagai salah satu indikator utama dari kemandirian koperasi. Semakin besar modal dari dalam berarti kemandirian koperasi tersebut semakin tinggi. Indikator kemandirian yang lain adalah keberanian manajemen untuk mengambil keputusan sendiri.

·         Peningkatan volume usaha
Volume usaha berkaitan dengan skala ekonomi, semakin besar volume usaha suatu koperasi berarti semakin besar potensinya sebagai perusahaan, sehingga dapat memberikan pelayanan dan jasa yang lebih baik kepada para anggota. Sejalan dengan identitas koperasi yang menyatakan bahwa anggota dan pelanggan adalah orang yang sama, maka volume usaha terutama harus berasal dari jasa anggota. Loyalitas dan partisipasi aktif anggota sangat menentukan besarnya volume usaha koperasi khususnya yang berasal dari anggota.

·         Peningkatan pelayanan kepada anggota dan masyarakat
Berbeda dengan unsur yang lain, pelayanan ini sukar dihitung secara kuantitatif. Anggota dapat merasakan efeknya dengan membandingkan sebelum dan sesudah ada koperasi. Bentuk pelayanan dapat bermacam-macam, misalnya: pendidikan, kesehatan, beasiswa, sumbangan, pelayanan usaha yang cepat dan efisien, dan sebagainya.

Menurut kelompok kami kriteria keberhasilan koperasi tidak berbeda pada setiap jenis koperasi karena aspek-aspek penilaian kriteria keberhasilan koperasi dimilki oleh seluruh jenis koperasi. Kriteria dalam menilai keberhasilan koperasi diatas merupakan penilaian secara umum yang dapat digunakan pada beberapa jenis koperasi yang berbeda.


2.   Apakah semakin besarnya SHU dapat menunjukan semakin berhasilnya koperasi sehingga besar kecilnya SHU tersebut dapat dipakai sebagai ukuran keberhasilan koperasi

Menurut kelompok kami, semakin besarnya SHU dapat menunjukan semakin berhasilnya koperasi. Tetapi SHU bukan menjadi tolak ukur keberhasilan koperasi karena berhasil atau tidaknya koperasi sesuai dengan tujuan koperasi yaitu mensejahterakan anggotanya. Namun  SHU merupakan salah satu   faktor penting, hal ini dapat terjadi karena sebagian SHU digunakan sebagai dana cadangan untuk membuat usaha baru sehingga dapat meningkatkan modal sendiri tanpa meminjam dari pihak luar. Modal sendiri dapat meningkatkan efisiensi dan kemandirian koperasi dalam mengembangkan usahanya. Besarnya SHU dan distribusi SHU kepada anggota, semakin adil pendistribusian SHU kepada anggota berarti koperasi tersebut semakin berhasil. Tetapi jika besar kecilnya SHU dikatakan tolak ukur keberhasilan suatu koperasi, kelompok kami kurang setuju.

3.   Diantara 13 kriteria koperasi mandiri, manakah kriteria yang sulit dipenuhi koperasi

Menurut kelompok kami, dari 13 kriteria keberhasilan koperasi yang sulit terpenuhi adalah:
·      keanggotaan koperasi. Anggota koperasi adalah orang-orang yang berkumpul, bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial dan budaya bersama, melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. Anggota koperasi sebagai pemilik berkewajiban yang memberikan kontribusi kepada organisasinya. Jumlah anggota berpengaruh terhadap aktivitas dalam kegiatan koperasi tersebut. Bila jumlah anggota koperasi banyak namun sifatnya pasif tentu saja tetap tidak berpengaruh terhadap SHU koperasi sehingga yang menentukan SHU bukanlah jumlah anggota dari segi kuantitas melainkan lebih kepada aktivitas anggota koperasi dalam memajukan koperasi.
·      Tidak ada penyelewengan dan manipulasi oleh pengelola. Adanya orang yang menjadi pengelola hanya ingin mendapatkan maksud tertentu. Pengelola seringkali memanipulasi data yang dimiliki oleh koperasi, apalagi mengenai pembukuan koperasi , hal ini merupakan bagian yang paling sensitif yang dapat menimbulkan terjadinya tindak korupsi.
·      Tidak mempunyai tunggakan. Dalam mengembangkan usahanya, koperasi terkadang membutuhkan dana atau modal dari pihak ketiga untuk menunjang pelaksanaan kegiatan koperasi.






4.     Apabila suatu koperasi belum dapat memenuhi seluruh kriteria koperasi mandiri, apakah koperasi tersebut dikatakan belum berhasil? adakah kriteria yang dianggap kurang relevan untuk penilaian keberhasilan koperasi dan untuk kondisi dewasa ini serta perlu di perbaharui? Beri alasan

Menurut kelompok kami, sebetulnya koperasi dikatakan berhasil atau tidak jika memenuhi kriteria 3 sehat koperasi yaitu, sehat organisasi, sehat usaha dan sehat mental. Jika suatu koperasi bisa memenuhi kriteria 3 sehat koperasi walaupun belum dapat memenuhi sepenuhnya kriteria koperasi mandiri maka koperasi tersebut bisa dikatakan berhasil, karena 13 kriteria itu merupakan kriteria koperasi dikatakan mandiri bukan kriteria koperasi dikatakan berhasil atau tidak. Dari 13 kriteria koperasi mandiri semuanya relevan dan mempengaruhi keberhasilan koperasi karena sudah mencakup anggota koperasi, AD/ART dilaksanakan, rapat anggota atau pengurus atau badan pemeriksa dapat berfungsi secara optimal. Apabila ada salah satu criteria yang belum terpenuhi maka bukan berarti koperasi tidak berhasil.

5.      Secara umum dapat dikatakan bahwa koperasi non KUD lebih berhasil dibandingkan dengan KUD. Bagaimana pendapat kelompok anda
Setuju dengan dikatakan bahwa koperasi non KUD lebih berhasil dibanding dengan KUD. Sumber daya manusia (keanggotaan) merupakan hal penting pada koperasi. Sejauh mana pengaruh kualitas sumber daya manusia mengelola koperasi terhadap KUD. Pada KUD tidak semua pengurus dan anggota koperasi mengetahui tentang kondisi koperasi melainkan hanya ketua saja yang dianggap harus mengetahui semuanya. Pengurus dan anggota koperasi juga beranggapan bahwa kemajuan koperasi sudah merupakan tanggung jawab pemerintah semata. Serta pengurus KUD tidak berani dalam mengambil resiko. Umumnya KUD berada di desa dengan tingkat Sumber Daya Manusia yang rendah, ini berdampak pada sulitnya masyarakat pedesaan untuk mengakses pasar yang disebabkan infrastruktur di desa belum memadai. Sementara anggota koperasi non KUD yang lebih berhasil dibanding dengan KUD karena koperasi non KUD lebih cepat dan lincah dalam menangkap peluang-peluang terutama berkaitan dengan jasa-jasa perbankan yang dibutuhkan dan banyak terjadi yang membuktikan bahwa adanya kekuatan institusi non KUD dalam memperjuangkan kepentingan para anggotanya.

tugas manajemen koperasi_KRITERIA KEBERHASILAN KOPERASI



1.        Hal-hal apa saja yang perlu mendapatkan perhatian dalam penilaian keberhasilan koperasi? dan perlukah dibuat kriteria keberhasilan yang berbeda untuk jenis koperasi yang berbeda?


·           Peningkatan anggota perorangan.
Pada dasarnya lebih penting jumlah anggota perorangan daripada jumlah koperasi, karena sebagai kumpulan orang kekuatan ekonomi bersumber dari anggota perorangan. Ada dua faktor keanggotaan yang perlu diperhatikan, yaitu kemampuan ekonomi dan tingkat kecerdasan anggota. Kemampuan ekonomi anggota penting karena dapat digerakkan untuk menyusun investasi, sedangkan kecerdasan anggota sangat menentukan mutu manajemen yang sifatnya partisipasi dalam rapat anggota sebagai kekuasaan tertinggi dengan satu anggota satu suara.
·         Peningkatan modal
Jumlah modal dari dalam dapat digunakan sebagai salah satu indikator utama dari kemandirian koperasi. Semakin besar modal dari dalam berarti kemandirian koperasi tersebut semakin tinggi. Indikator kemandirian yang lain adalah keberanian manajemen untuk mengambil keputusan sendiri.

·         Peningkatan volume usaha
Volume usaha berkaitan dengan skala ekonomi, semakin besar volume usaha suatu koperasi berarti semakin besar potensinya sebagai perusahaan, sehingga dapat memberikan pelayanan dan jasa yang lebih baik kepada para anggota. Sejalan dengan identitas koperasi yang menyatakan bahwa anggota dan pelanggan adalah orang yang sama, maka volume usaha terutama harus berasal dari jasa anggota. Loyalitas dan partisipasi aktif anggota sangat menentukan besarnya volume usaha koperasi khususnya yang berasal dari anggota.

·         Peningkatan pelayanan kepada anggota dan masyarakat
Berbeda dengan unsur yang lain, pelayanan ini sukar dihitung secara kuantitatif. Anggota dapat merasakan efeknya dengan membandingkan sebelum dan sesudah ada koperasi. Bentuk pelayanan dapat bermacam-macam, misalnya: pendidikan, kesehatan, beasiswa, sumbangan, pelayanan usaha yang cepat dan efisien, dan sebagainya.

Menurut kelompok kami kriteria keberhasilan koperasi tidak berbeda pada setiap jenis koperasi karena aspek-aspek penilaian kriteria keberhasilan koperasi dimilki oleh seluruh jenis koperasi. Kriteria dalam menilai keberhasilan koperasi diatas merupakan penilaian secara umum yang dapat digunakan pada beberapa jenis koperasi yang berbeda.


2.   Apakah semakin besarnya SHU dapat menunjukan semakin berhasilnya koperasi sehingga besar kecilnya SHU tersebut dapat dipakai sebagai ukuran keberhasilan koperasi

Menurut kelompok kami, semakin besarnya SHU dapat menunjukan semakin berhasilnya koperasi. Tetapi SHU bukan menjadi tolak ukur keberhasilan koperasi karena berhasil atau tidaknya koperasi sesuai dengan tujuan koperasi yaitu mensejahterakan anggotanya. Namun  SHU merupakan salah satu   faktor penting, hal ini dapat terjadi karena sebagian SHU digunakan sebagai dana cadangan untuk membuat usaha baru sehingga dapat meningkatkan modal sendiri tanpa meminjam dari pihak luar. Modal sendiri dapat meningkatkan efisiensi dan kemandirian koperasi dalam mengembangkan usahanya. Besarnya SHU dan distribusi SHU kepada anggota, semakin adil pendistribusian SHU kepada anggota berarti koperasi tersebut semakin berhasil. Tetapi jika besar kecilnya SHU dikatakan tolak ukur keberhasilan suatu koperasi, kelompok kami kurang setuju.

3.   Diantara 13 kriteria koperasi mandiri, manakah kriteria yang sulit dipenuhi koperasi

Menurut kelompok kami, dari 13 kriteria keberhasilan koperasi yang sulit terpenuhi adalah:
·      keanggotaan koperasi. Anggota koperasi adalah orang-orang yang berkumpul, bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial dan budaya bersama, melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. Anggota koperasi sebagai pemilik berkewajiban yang memberikan kontribusi kepada organisasinya. Jumlah anggota berpengaruh terhadap aktivitas dalam kegiatan koperasi tersebut. Bila jumlah anggota koperasi banyak namun sifatnya pasif tentu saja tetap tidak berpengaruh terhadap SHU koperasi sehingga yang menentukan SHU bukanlah jumlah anggota dari segi kuantitas melainkan lebih kepada aktivitas anggota koperasi dalam memajukan koperasi.
·      Tidak ada penyelewengan dan manipulasi oleh pengelola. Adanya orang yang menjadi pengelola hanya ingin mendapatkan maksud tertentu. Pengelola seringkali memanipulasi data yang dimiliki oleh koperasi, apalagi mengenai pembukuan koperasi , hal ini merupakan bagian yang paling sensitif yang dapat menimbulkan terjadinya tindak korupsi.
·      Tidak mempunyai tunggakan. Dalam mengembangkan usahanya, koperasi terkadang membutuhkan dana atau modal dari pihak ketiga untuk menunjang pelaksanaan kegiatan koperasi.






4.     Apabila suatu koperasi belum dapat memenuhi seluruh kriteria koperasi mandiri, apakah koperasi tersebut dikatakan belum berhasil? adakah kriteria yang dianggap kurang relevan untuk penilaian keberhasilan koperasi dan untuk kondisi dewasa ini serta perlu di perbaharui? Beri alasan

Menurut kelompok kami, sebetulnya koperasi dikatakan berhasil atau tidak jika memenuhi kriteria 3 sehat koperasi yaitu, sehat organisasi, sehat usaha dan sehat mental. Jika suatu koperasi bisa memenuhi kriteria 3 sehat koperasi walaupun belum dapat memenuhi sepenuhnya kriteria koperasi mandiri maka koperasi tersebut bisa dikatakan berhasil, karena 13 kriteria itu merupakan kriteria koperasi dikatakan mandiri bukan kriteria koperasi dikatakan berhasil atau tidak. Dari 13 kriteria koperasi mandiri semuanya relevan dan mempengaruhi keberhasilan koperasi karena sudah mencakup anggota koperasi, AD/ART dilaksanakan, rapat anggota atau pengurus atau badan pemeriksa dapat berfungsi secara optimal. Apabila ada salah satu criteria yang belum terpenuhi maka bukan berarti koperasi tidak berhasil.

5.      Secara umum dapat dikatakan bahwa koperasi non KUD lebih berhasil dibandingkan dengan KUD. Bagaimana pendapat kelompok anda
Setuju dengan dikatakan bahwa koperasi non KUD lebih berhasil dibanding dengan KUD. Sumber daya manusia (keanggotaan) merupakan hal penting pada koperasi. Sejauh mana pengaruh kualitas sumber daya manusia mengelola koperasi terhadap KUD. Pada KUD tidak semua pengurus dan anggota koperasi mengetahui tentang kondisi koperasi melainkan hanya ketua saja yang dianggap harus mengetahui semuanya. Pengurus dan anggota koperasi juga beranggapan bahwa kemajuan koperasi sudah merupakan tanggung jawab pemerintah semata. Serta pengurus KUD tidak berani dalam mengambil resiko. Umumnya KUD berada di desa dengan tingkat Sumber Daya Manusia yang rendah, ini berdampak pada sulitnya masyarakat pedesaan untuk mengakses pasar yang disebabkan infrastruktur di desa belum memadai. Sementara anggota koperasi non KUD yang lebih berhasil dibanding dengan KUD karena koperasi non KUD lebih cepat dan lincah dalam menangkap peluang-peluang terutama berkaitan dengan jasa-jasa perbankan yang dibutuhkan dan banyak terjadi yang membuktikan bahwa adanya kekuatan institusi non KUD dalam memperjuangkan kepentingan para anggotanya.

tugas manajemen koperasi_KRITERIA KEBERHASILAN KOPERASI



1.        Hal-hal apa saja yang perlu mendapatkan perhatian dalam penilaian keberhasilan koperasi? dan perlukah dibuat kriteria keberhasilan yang berbeda untuk jenis koperasi yang berbeda?


·           Peningkatan anggota perorangan.
Pada dasarnya lebih penting jumlah anggota perorangan daripada jumlah koperasi, karena sebagai kumpulan orang kekuatan ekonomi bersumber dari anggota perorangan. Ada dua faktor keanggotaan yang perlu diperhatikan, yaitu kemampuan ekonomi dan tingkat kecerdasan anggota. Kemampuan ekonomi anggota penting karena dapat digerakkan untuk menyusun investasi, sedangkan kecerdasan anggota sangat menentukan mutu manajemen yang sifatnya partisipasi dalam rapat anggota sebagai kekuasaan tertinggi dengan satu anggota satu suara.
·         Peningkatan modal
Jumlah modal dari dalam dapat digunakan sebagai salah satu indikator utama dari kemandirian koperasi. Semakin besar modal dari dalam berarti kemandirian koperasi tersebut semakin tinggi. Indikator kemandirian yang lain adalah keberanian manajemen untuk mengambil keputusan sendiri.

·         Peningkatan volume usaha
Volume usaha berkaitan dengan skala ekonomi, semakin besar volume usaha suatu koperasi berarti semakin besar potensinya sebagai perusahaan, sehingga dapat memberikan pelayanan dan jasa yang lebih baik kepada para anggota. Sejalan dengan identitas koperasi yang menyatakan bahwa anggota dan pelanggan adalah orang yang sama, maka volume usaha terutama harus berasal dari jasa anggota. Loyalitas dan partisipasi aktif anggota sangat menentukan besarnya volume usaha koperasi khususnya yang berasal dari anggota.

·         Peningkatan pelayanan kepada anggota dan masyarakat
Berbeda dengan unsur yang lain, pelayanan ini sukar dihitung secara kuantitatif. Anggota dapat merasakan efeknya dengan membandingkan sebelum dan sesudah ada koperasi. Bentuk pelayanan dapat bermacam-macam, misalnya: pendidikan, kesehatan, beasiswa, sumbangan, pelayanan usaha yang cepat dan efisien, dan sebagainya.

Menurut kelompok kami kriteria keberhasilan koperasi tidak berbeda pada setiap jenis koperasi karena aspek-aspek penilaian kriteria keberhasilan koperasi dimilki oleh seluruh jenis koperasi. Kriteria dalam menilai keberhasilan koperasi diatas merupakan penilaian secara umum yang dapat digunakan pada beberapa jenis koperasi yang berbeda.


2.   Apakah semakin besarnya SHU dapat menunjukan semakin berhasilnya koperasi sehingga besar kecilnya SHU tersebut dapat dipakai sebagai ukuran keberhasilan koperasi

Menurut kelompok kami, semakin besarnya SHU dapat menunjukan semakin berhasilnya koperasi. Tetapi SHU bukan menjadi tolak ukur keberhasilan koperasi karena berhasil atau tidaknya koperasi sesuai dengan tujuan koperasi yaitu mensejahterakan anggotanya. Namun  SHU merupakan salah satu   faktor penting, hal ini dapat terjadi karena sebagian SHU digunakan sebagai dana cadangan untuk membuat usaha baru sehingga dapat meningkatkan modal sendiri tanpa meminjam dari pihak luar. Modal sendiri dapat meningkatkan efisiensi dan kemandirian koperasi dalam mengembangkan usahanya. Besarnya SHU dan distribusi SHU kepada anggota, semakin adil pendistribusian SHU kepada anggota berarti koperasi tersebut semakin berhasil. Tetapi jika besar kecilnya SHU dikatakan tolak ukur keberhasilan suatu koperasi, kelompok kami kurang setuju.

3.   Diantara 13 kriteria koperasi mandiri, manakah kriteria yang sulit dipenuhi koperasi

Menurut kelompok kami, dari 13 kriteria keberhasilan koperasi yang sulit terpenuhi adalah:
·      keanggotaan koperasi. Anggota koperasi adalah orang-orang yang berkumpul, bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial dan budaya bersama, melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. Anggota koperasi sebagai pemilik berkewajiban yang memberikan kontribusi kepada organisasinya. Jumlah anggota berpengaruh terhadap aktivitas dalam kegiatan koperasi tersebut. Bila jumlah anggota koperasi banyak namun sifatnya pasif tentu saja tetap tidak berpengaruh terhadap SHU koperasi sehingga yang menentukan SHU bukanlah jumlah anggota dari segi kuantitas melainkan lebih kepada aktivitas anggota koperasi dalam memajukan koperasi.
·      Tidak ada penyelewengan dan manipulasi oleh pengelola. Adanya orang yang menjadi pengelola hanya ingin mendapatkan maksud tertentu. Pengelola seringkali memanipulasi data yang dimiliki oleh koperasi, apalagi mengenai pembukuan koperasi , hal ini merupakan bagian yang paling sensitif yang dapat menimbulkan terjadinya tindak korupsi.
·      Tidak mempunyai tunggakan. Dalam mengembangkan usahanya, koperasi terkadang membutuhkan dana atau modal dari pihak ketiga untuk menunjang pelaksanaan kegiatan koperasi.






4.     Apabila suatu koperasi belum dapat memenuhi seluruh kriteria koperasi mandiri, apakah koperasi tersebut dikatakan belum berhasil? adakah kriteria yang dianggap kurang relevan untuk penilaian keberhasilan koperasi dan untuk kondisi dewasa ini serta perlu di perbaharui? Beri alasan

Menurut kelompok kami, sebetulnya koperasi dikatakan berhasil atau tidak jika memenuhi kriteria 3 sehat koperasi yaitu, sehat organisasi, sehat usaha dan sehat mental. Jika suatu koperasi bisa memenuhi kriteria 3 sehat koperasi walaupun belum dapat memenuhi sepenuhnya kriteria koperasi mandiri maka koperasi tersebut bisa dikatakan berhasil, karena 13 kriteria itu merupakan kriteria koperasi dikatakan mandiri bukan kriteria koperasi dikatakan berhasil atau tidak. Dari 13 kriteria koperasi mandiri semuanya relevan dan mempengaruhi keberhasilan koperasi karena sudah mencakup anggota koperasi, AD/ART dilaksanakan, rapat anggota atau pengurus atau badan pemeriksa dapat berfungsi secara optimal. Apabila ada salah satu criteria yang belum terpenuhi maka bukan berarti koperasi tidak berhasil.

5.      Secara umum dapat dikatakan bahwa koperasi non KUD lebih berhasil dibandingkan dengan KUD. Bagaimana pendapat kelompok anda
Setuju dengan dikatakan bahwa koperasi non KUD lebih berhasil dibanding dengan KUD. Sumber daya manusia (keanggotaan) merupakan hal penting pada koperasi. Sejauh mana pengaruh kualitas sumber daya manusia mengelola koperasi terhadap KUD. Pada KUD tidak semua pengurus dan anggota koperasi mengetahui tentang kondisi koperasi melainkan hanya ketua saja yang dianggap harus mengetahui semuanya. Pengurus dan anggota koperasi juga beranggapan bahwa kemajuan koperasi sudah merupakan tanggung jawab pemerintah semata. Serta pengurus KUD tidak berani dalam mengambil resiko. Umumnya KUD berada di desa dengan tingkat Sumber Daya Manusia yang rendah, ini berdampak pada sulitnya masyarakat pedesaan untuk mengakses pasar yang disebabkan infrastruktur di desa belum memadai. Sementara anggota koperasi non KUD yang lebih berhasil dibanding dengan KUD karena koperasi non KUD lebih cepat dan lincah dalam menangkap peluang-peluang terutama berkaitan dengan jasa-jasa perbankan yang dibutuhkan dan banyak terjadi yang membuktikan bahwa adanya kekuatan institusi non KUD dalam memperjuangkan kepentingan para anggotanya.